Arloji yang Berhenti di Pukul Sepuluh
Safa Afni Pratiwi
Di sudut Jalan Melati yang mulai temaram, toko jam milik Pak Tua Idris tampak seperti fosil di antara gedung-gedung kaca yang menjulang. Di sana, waktu seolah tidak bergerak, kecuali melalui bunyi tik-tok ribuan jam dinding yang saling bersahutan secara tidak sinkron.
Laras masuk ke toko itu dengan langkah ragu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah arloji perak kuno yang jarumnya membeku di angka sepuluh.
“Bisa perbaiki ini, Pak?” tanya Laras pelan.
Pak Idris mengintip dari balik kacamata tebalnya. Ia menerima arloji itu, memutarnya perlahan, lalu menggeleng. “Mesinnya masih bagus, Nak. Tapi jam ini tidak rusak. Ia hanya… memilih untuk berhenti.”
Laras mengernyit. “Maksudnya? Saya sudah mengganti baterainya, membawanya ke tiga tukang jam, tapi tetap tidak jalan.”
Pak Idris tersenyum misterius. Ia meletakkan arloji itu di atas meja kayu yang lecet. “Beberapa jam tidak bekerja dengan daya listrik atau pegas. Mereka bekerja dengan kenangan. Katakan padaku, apa yang terjadi pada pukul sepuluh?”
Laras terdiam. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Pukul sepuluh malam, tiga tahun lalu, adalah saat terakhir ia melepaskan genggaman tangan ayahnya di bangsal rumah sakit. Sejak saat itu, Laras merasa hidupnya sendiri ikut berhenti. Ia sukses secara karier, tapi perasaannya tertahan di detik yang sama dengan arloji itu.
“Ayah saya memberikannya tepat sebelum dia pergi,” bisik Laras.
“Jam ini setia padamu,” ucap Pak Idris lembut. “Ia menunggumu siap untuk berjalan lagi. Jika kau terus menatap masa lalu, jarum jam ini tidak akan punya alasan untuk bergerak ke angka sebelas.”
Pak Idris menyerahkan kembali arloji itu tanpa menyentuh obeng atau tang sedikit pun. “Pulanglah. Berdamailah dengan pukul sepuluh itu. Katakan padanya bahwa hari esok tidak semenakutkan yang kau kira.”
Malam itu, di apartemennya, Laras duduk di tepi jendela. Ia menatap arloji perak itu cukup lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak menangis saat mengingat ayahnya. Ia tersenyum, membayangkan tawa ayahnya yang parau.
“Terima kasih, Yah. Aku akan baik-baik saja,” bisiknya.
Klik.
Suara halus itu memecah keheningan kamar. Jarum panjang arloji itu bergetar, lalu bergeser satu garis melewati angka sepuluh. Tik. Tik. Tik.
Waktu tidak lagi membeku. Laras menarik napas panjang, merasa bebannya terangkat, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia menanti datangnya matahari pagi.