Batas Sabar, Karya Salsabila Trijayanti IXA

Batas Sabar

 

Di kelas XI-B, Arka adalah siswa yang sangat pendiam. Ia selalu memilih diam untuk menghindari konflik, tetapi sikapnya itu justru membuat teman-temannya semakin sering merundungnya. Mulai dari mengejek namanya hingga puncaknya mereka menertawakan cara bicaranya saat presentasi di depan kelas.

 

Arka berdiri terdiam mendengar tawa teman-temannya yang merendahkan. Saat itu ia sadar bahwa terus-menerus diam tidak akan mengubah keadaan, malah membuat orang lain bertindak seenaknya.

 

Keesokan harinya, saat ejekan itu terdengar lagi, Arka tidak tinggal diam. Ia mengangkat kepala, menatap mereka, dan berkata dengan tegas: “Cukup. Saya tidak suka dijadikan bahan bercandaan kalian.”

 

Seketika, kelas menjadi hening. Guru yang mendengar hal itu langsung memanggil siswa yang mengejek untuk diberikan sanksi tegas. Pihak sekolah juga mengadakan pertemuan khusus untuk memastikan kejadian tersebut tidak terulang. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani merundung Arka.

Teman-temannya mulai menghargainya, dan Arka kini bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan.

 

Kini, suasana kelas XI-B jauh lebih kondusif. Teman-teman yang dulu mengejek akhirnya meminta maaf secara terbuka kepada Arka. Arka menerima maaf mereka dengan lapang dada, namun ia tetap konsisten menjaga batasan agar tidak ada lagi yang meremehkannya. Ia pulang dengan perasaan tenang, tahu bahwa masalahnya benar-benar telah usai.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...