u4-3f3731e884c0bafcb3e23bca2a4c59e1-1
Bidikan Keteguhan

 

Suatu hari seorang perempuan membimbing seorang laki laki, mereka juga saling percaya, perempuan itu membimbing laki laki itu agar lebih dewasa namun ia sadar ia tidak harus terus mendampingi laki laki dan harus ia biarkan mandiri. Mereka berdua mengambil jalur berbeda 

Beberapa tahun kemudian mereka bertemu lagi, laki laki itu belajar memanah, perempuan itu lalu  berkata “kamu hanya harus menepatkan sasaranmu ke apel ini, tapi jika kau bersih keras ingin memanahku kau tidak mencintaiku dan kau tidak layak” laki laki itu berfikir sejenak iya mengarahkan anak panah ke apel, lalu arahnya turun ke tubuh perempuan itu sedikit demi sedikit, laki laki itu tidak ragu untuk memanah nya akhirnya ia melepaskan anak panah itu, perempuan itu lalu menghindar segera, iya lalu mendekati laki laki itu, berbisik “kau layak untuk ku” 

Di sela sela kebingungan banyak hal yang bisa di ambil dari narasi singkat tersebut saat manusia sudah mencapai titik kedewasaan nya

Søren Kierkegaard berkata “Berani berarti kehilangan pijakan untuk sementara. Tidak berani berarti kehilangan diri sendiri selamanya.”

jika laki-laki itu ragu dan tidak melepaskan panah karena takut, dia akan tetap menjadi murid dan mengabdi kepada pelatih selamanya. dengan berani melepaskan panah, dia menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dewasa

Antoine de Saint-Exupéry berkata

“Cinta tidak terdiri dari saling memandang satu sama lain, tetapi dalam melihat ke luar bersama-sama ke arah yang sama.” 

Mereka tidak lagi saling menempatkan posisi sebagai murid dan guru tetapi mereka tau bahwa sudah saat nya mereka siap belajar di jalur yang sama dengan kedewasaan 

 Kepercayaan pada kemampuan

Laki-laki itu mungkin sudah sangat ahli memanah sehingga dia tahu arah panahnya tidak akan benar-benar membunuh, atau dia tahu perempuan itu cukup sigap untuk menghindar.

Dia tahu bahwa perempuan yang melatihnya menjadi dewasa bukanlah seseorang yang akan diam saja menerima nasib. 

Situasi adalah penentu 

Dia tahu ini adalah momen pembuktian kepercayaan dan ketangguhan, di mana perempuan itu memegang kendali penuh atas dirinya sendiri (bisa menghindar).

Jika ada ancaman sungguhan dari luar, laki-laki yang sama ini akan menjadi orang pertama yang berdiri di depan untuk melindungi perempuan itu.

Dia menekan egonya untuk tidak sekadar tunduk.

Tapi dia menjaga kebaikannya dengan tidak benar-benar membidik titik fatal yang mustahil dihindari.

Cinta yang tersirat sering kali jauh lebih kuat dan mendalam daripada kata-kata manis yang membosankan. Dalam narasi ini, bahasa cinta mereka bukan melalui “aku mencintaimu,” melainkan melalui kepercayaan yang berbahaya dan kedewasaan hati.

 

 

 

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...