u4-1000221269-4
Bunga Untuk Inda

 Bunga Untuk Inda

Karya: Azzam Tsaqif Ibnu Quraisy

 

Malam itu, Inda berada di rumahnya. Rumah peninggalan ayahnya. Rumah itu kecil, lembap, bau apek, dan hanya diterangi lampu redup yang berkedip-kedip penuh dengan retakan dinding rumah yang membuat suasana seperti sedang berada di rumah tak layak huni. Inda menatap dinding kusam rumah itu dengan napas panjang. Tidak ada yang membuatnya betah tinggal di sana. Setiap malam ia hanya duduk di sudut kamar, menatap foto ayahnya yang mulai berdebu. Tidak ada suara tawa, tidak ada yang memanggil namanya. Rumah itu terasa lebih seperti gudang tua daripada tempat tinggal. Ia terpaksa tinggal di sana karena hanya itu rumah peninggalan ayahnya.

Inda teringat kejadian yang telah lalu. Malam itu suara teriakan memenuhi rumah kecil itu. Piring pecah, kursi terseret kasar. Inda bersembunyi di balik pintu kamar sambil menutup telinganya. Jantungnya berdebar kencang. Tiba-tiba terdengar benturan keras, lalu semuanya sunyi. Saat ia keluar, ayahnya sudah tergeletak di lantai. Tidak bergerak. Ayah kandungnya meninggal dan ibunya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saat itu ia benar-benar sendiri tanpa kedua orang tua yang menemaninya. Ia hidup seorang diri dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bantuan orang-orang di sekitarnya.

Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya Ibu sudah bebas dan saat ini sudah menikah lagi. Suami ibu ikut tinggal di rumah ini. Tetapi karena kemalasannya ia hanya bisa membuat rumah menjadi semakin kotor dan tidak terawat.

Suatu hari, Inda keluar rumah karena sudah muak melihat rumah yang dulu dibangun oleh ayah kandungnya menjadi semakin tidak layak untuk ditinggali. Ibu dengan urusannya sendiri, sedangkan Inda, dengan tangan kecilnya tidak banyak yang bisa dilakukannya untuk rumah tersebut.

Inda pergi ke halaman di sekitar rumahnya. Ia menemukan bunga yang sangat cantik dan indah. Disentuhnya kelopak bunga pelan. Rasanya hangat. Seolah-olah ada yang menemaninya. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia tersenyum kecil. Hingga ia sering mengisi waktunya di luar rumah hanya untuk merawat bunga itu. Melihat Inda sering keluar rumah, suatu ketika ibu pergi mengikutinya. Sesampai di tempat ia merawat bunganya, Inda merasa ada yang mengikuti dan ia pun menoleh ke belakang, terlihat ibu berdiri memperhatikannya.

Ibu bertanya, “ Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”. “Hanya merawat bunga”, jawab Inda. “Kau senang merawat bunga?”, tanya ibu kemudian. “Iya, karena hanya dengan merawat bunga aku merasa hatiku sangat tenang bagaikan saat aku masih bersama ayah”, jawab Inda. Setelah mendengar apa yang dikatakan Inda, Ibu tiba-tiba memeluk Inda erat. Tangannya gemetar.

“Maafkan Ibu… Ibu sudah terlalu lama meninggalkanmu…” Air mata jatuh membasahi bahu Inda. Ia merasa bersalah atas semua yang terjadi. Ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Inda. Tidak bisa selalu ada saat Inda membutuhkannya. Selain itu dengan adanya suami barunya, ibu Inda merasa Inda tidak nyaman.

Keesokan harinya, bertepatan dengan liburan sekolah, ibu membawa Inda kerumah nenek agar Inda bisa bermain dengan bebas bersama kakek dan neneknya. Untuk pertama kalinya setelah lama, Inda tersenyum lebar. Hatinya seperti bunga kecil di halaman rumah, akhirnya mekar kembali.

 

 

 

 

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...