Cerpen – Terjebak dalam Hening Lumajang

Terjebak dalam Hening Lumajang

 

Karya : Mardlatillah Qoonita Ahmad IX A

 

Siang hari di Lumajang selalu terasa menyengat. Panas terik matahari seolah membakar aspal, membuat setiap orang ingin segera pulang ke rumah yang dingin. Namun, bagi keluarga Pak Aris, rumah bukanlah tempat untuk bertukar cerita. Rumah hanyalah persinggahan untuk mengisi daya ponsel dan menyalakan game.

 

​Setiap hari, ritme hidup mereka teratur dengan pola yang membosankan. Ayah dan Ibu pulang kerja dengan lelah, sementara Akash akan langsung mengurung diri di kamar, tenggelam dalam dunia game di PC-nya. Di sisi lain, Aurora akan sibuk dengan dunianya sendiri di media sosial hingga larut malam. Bahkan di meja makan, denting sendok yang beradu dengan piring adalah satu-satunya suara, karena masing-masing dari mereka lebih memilih menatap layar daripada menatap wajah satu sama lain.

 

​Namun, sore itu Lumajang berubah drastis. Langit yang sedari tadi cerah tiba-tiba tertutup awan hitam pekat. Angin kencang mulai menderu, disusul hujan deras yang mengguyur tanpa ampun. Kilatan petir menyambar, dan seketika, CETAK! Seluruh aliran listrik padam total.

 

​”Ah, sial! PC-ku mati! Padahal mau mabar sama bang Windah” teriak Akash dari kamarnya, frustrasi karena game yang akan ia mainkan terputus.

 

​Tak lama, terdengar suara langkah kaki di kegelapan. Ayah dan Ibu keluar kamar sambil meraba-raba mencari ponsel, namun nihil. Setelah digunakan terus-menerus sejak pulang sekolah dan kantor, baterai ponsel mereka semua berada di angka 1%—lalu mati total bersamaan dengan pudarnya cahaya layar.

 

​Keheningan yang mencekam menyelimuti rumah itu. Suara hujan di luar yang tadinya dianggap gangguan, kini justru menjadi pengisi suara yang memenuhi rumah.

 

​Di tengah kegelapan itu, Aurora berinisiatif memecah kebisuan. “Ayah, Ibu, daripada kita bosan karena tidak ada internet, bagaimana kalau kita masak sesuatu saja? Aku lapar, dan aku tahu Ayah punya stok mi instan favorit di dapur.”

 

​Ide itu disambut hangat. Dengan berpegangan tangan agar tidak terjatuh, mereka berjalan menuju dapur. Sambil tertawa kecil karena Akash tidak sengaja menabrak sudut meja, mereka mulai menyalakan kompor gas. Semburat cahaya oranye dari api kompor menjadi satu-satunya sumber penerangan, menciptakan bayangan hangat di dinding dapur.

 

​”Ingat tidak, dulu kita pernah masak mi instan saat kemping di Ranu Pani?” tanya Ayah tiba-tiba, sambil mengaduk telur ke dalam panci.

 

​Kenangan itu memancing tawa. Dari sanalah, dinding-dinding sunyi di antara mereka mulai runtuh. Aurora mulai bercerita tentang menu MBG yang ia dapat di sekolah, Akash akhirnya mengakui rencananya untuk belajar menjadi game developer agar bisa membuat karya sendiri, dan berharap game nya nanti dapat dimainkan oleh idolanya yaitu bang Windah Basudara. Ayah dan Ibu pun ikut berbagi cerita tentang masa muda mereka yang ternyata penuh warna.

​Saat semangkuk mi instan panas tersaji di meja, tidak ada ponsel yang menjadi penghalang. Hanya ada uap panas dan tawa yang pecah di tengah suasana malam Lumajang yang dingin. Mereka sadar, koneksi yang selama ini mereka cari di dunia digital, ternyata jauh lebih nyata saat mereka duduk berdekatan.

 

​Ketika lampu akhirnya menyala kembali, ruangan menjadi benderang. Namun, tidak ada yang bergegas mengambil ponsel mereka. Akash, Aurora, dan orang tua mereka justru saling menatap dengan senyum yang tulus. Bagi keluarga itu, malam ini adalah awal dari rutinitas baru: waktu untuk benar-benar hadir satu sama lain, tanpa gangguan layar.

 

Pesan moralnya: Jangan biarkan teknologi menjadi tembok yang memisahkan kita dari orang-orang tersayang; kadang kita perlu melepaskan ponsel agar bisa benar-benar hadir dan terhubung satu sama lain.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...