Versi Yang Tidak Bisa Diceritakan
Oleh: Izzah Nurillah IX A
Di sebuah desa kecil yang tenang dan dikelilingi oleh sawah yang luas serta udara yang segar, hiduplah seorang gadis bernama Alya yang dikenal sebagai anak yang ramah, rajin, dan selalu bersikap sopan kepada siapa pun yang ia temui, sehingga banyak orang yang menyukai Alya karena sikapnya yang sederhana namun hangat.
Alya tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggir desa, meskipun kehidupan mereka tidak mewah, tetapi keluarganya selalu hidup dengan penuh rasa syukur serta saling mendukung satu sama lain dalam menjalani hari-hari yang kadang terasa mudah dan penuh dengan tantangan kecil yang harus dihadapi bersama.
Setiap pagi Alya berjalan kaki untuk menuju sekolah bersama dua teman dekatnya, yaitu Rani dan Aruna, sambil melewati jalan kecil yang ada di antara sawah yang luas. Dalam perjalanannya mereka sering bercanda dan saling bercerita tentang pelajaran di sekolah ataupun hal-hal lucu yang mereka alami.
Suatu pagi Rani berkata sambil tertawa kecil, “Alya, kamu selalu kelihatan tenang ya. Aku kalau ada tugas banyak rasanya langsung pusing”.
Alya hanya tersenyum dan menjawab dengan lembut, “Aku juga kadang pusing kok, Ran. Cuma aku biasanya mencoba memikirkan satu-satu dulu”.
Di sekolah, Alya dikenal sebagai siswa yang pintar dan tidak pernah ragu untuk membantu temannya yang kesulitan saat memahami pelajaran. Suatu hari ketika Aruna tidak mengerti pelajaran bahasa Indonesia, ia menghampiri Alya dan berkata, “Alya, kamu bisa jelasin lagi nggak? Aku masih bingung yang bagian ini lho”.
Alya pun menjawab, “Bolehh, sini aku coba jelasin pelan-pelan”.
Suatu hari guru bahasa Indonesia mereka masuk ke kelas dengan membawa beberapa kertas dan berkata, “Anak-anak, minggu ini sekolah akan mengadakan lomba menulis cerpen. Kalian bebas menulis cerita apa saja, yang penting menarik dan bermakna”. Mendengar hal itu, sebagian siswa terlihat antusias, tetapi Alya justru terdiam memikirkan sesuatu.
Saat jam istirahat, Rani bertanya ke Alya, “Kamu pasti ikut lomba itu kan? Kamu kan suka menulis”. Alya terlihat ragu lalu menjawab pelan, “Aku sebenarnya ingin ikut, tapi aku belum yakin cerita apa yang harus aku tulis nanti”.
Sepulang sekolah, Alya duduk di dekat jendela kamarnya sambil memandangi langit sore yang perlahan berubah menjadi jingga. Ia kemudian mengambil buku kecil berwarna biru yang selama ini menjadi tempatnya untuk menuliskan berbagai perasaan yang tidak pernah ia ceritakan kepada orang lain.
Saat Alya sedang menulis, ibunya masuk ke kamar dan bertanya dengan lembut, “Alya sedang menulis apa?”
Alya tersenyum kecil lalu menjawab. “Cuma menulis cerita, Bu. Kadang kalau menulis rasanya hati jadi lebih lega”.
Keesokan harinya di sekolah, Rani kembali memberi semangat kepada Alya. “Alya, menurutku kamu harus ikut lomba itu. Ceritamu pasti bagus,” kata Rani dengan penuh semangat. Alya kemudian berkata pelan, “Kadang aku punya banyak cerita di kepala, tapi rasanya sulit untuk dijelaskan”.
Mendengar hal itu, Aruna ikut berkata, “Tidak semua cerita harus dijelaskan semuanya. Yang penting orang bisa merasakan maknanya”. Kata-kata itu membuat Alya mulai berpikir bahwa mungkin ia tidak perlu menceritakan semuanya secara langsung.
Malam harinya Alya kembali membuka buku birunya itu dan mulai menulis sebuah cerita yang terinspirasi dari berbagai hal yang pernah ia alami. Ia memberi judul cerpennya “Versi Yang Tidak Bisa Diceritakan”, karena cerita itu menggambarkan seseorang yang memiliki banyak hal di dalam hatinya yang tidak selalu bisa ia jelaskan kepada orang lain.
Beberapa hari kemudian, semua siswa mengumpulkan cerpen mereka kepada guru. Saat Alya menyerahkan kertas ceritanya, gurunya berkata, “Terima kasih, Alya. Semoga ceritamu bisa menginspirasi orang lain”. Mendengar itu Alya hanya tersenyum dengan perasaan yang sedikit lega.
Meskipun Alya tidak terlalu memikirkan apakah ceritanya akan menang atau tidak, tetapi ia merasa senang karena akhirnya berani untuk meuliskan sesuatu yang selama ini hanya tersimpan di dalam hatinya.