Hancurnya Sebuah Impian
Karya: Gevy Rizki Maulidia
Aliza Scervino adalah seorang anak berprestasi di sekolahnya. Ia pintar cantik, dan sangat sering dipilih untuk mengikuti lomba. Namun, jika kalian mengira Aliza merupakan gadis yang baik dan lembut, kalian salah besar. Ia manipulatif, sombong, dan arogan.
Banyak yang menjulukinya sebagai “Queen of School”. Namun, mahkota itu membuatnya lupa caranya menunduk.
Suatu hari, karya teman dan pacar Aliza yang bernama Tristan mengajak Aliza untuk melakukan hal “bebas” malam ini. Awalnya Aliza ingin menolak, tapi karena egonya tinggi dan tak ingin dicap sebagai anak pengecut, Aliza menerima tawaran itu tanpa mengetahui konsekuensinya.
Malam itu, mereka pergi ke sebuah bar kecil di pusat kota.
Lampu remang-remang, musik keras, tawa yang berlebihan. Awalnya Aliza hanya duduk diam dan tersenyum menjaga citra. Tapi suasana membuatnya larut. Ia mulai tertawa lebih keras dari biasanya, bersandar sangat dekat kepada Tristan, dan berbicara tanpa menyaring perkataannya.
Salah satu teman Aliza yang kini sudah setengah sadar tiba-tiba memotret Aliza dan Tristan, ia berniat menyimpannya saja. Namun jarinya meleset dan tak sengaja menekan tombol posting. Klik. Satu foto.
Memperlihatkan Aliza dan Tristan yang tengah dalam keadaan yang tidak wajar, wajah memerah, gelas di tangan, jarak yang terlalu intim untuk mereka yang masih dibawah umur.
Butuh waktu lima menit sampai komentar pertama muncul. Sepuluh menit hingga tangkapan layar menyebar. Tiga puluh menit sampai seluruh sekolah tahu.
Keesokan paginya, mahkota Aliza retak. Bisikan terdengar di lorong. Pihak sekolah memanggilnya. Foto itu sudah sampai ke wali murid. Bahkan ada yang mengirimnya pada orang tua Aliza.
Di ruang kepala sekolah, untuk pertama kalinya, Aliza tidak bisa memanipulasi keadaan. Tidak ada senyum yang bisa menyelamatkannya. Tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menutup malu. Beasiswa luar negeri yang ia incar ditunda. la dicopot dari jabatan ketua klub tari. Namanya yang dulu dielu-elukan kini menjadi bahan perbincangan.
Bukan ratu. Bukan juara. Hanya seorang gadis yang terlalu percaya diri bahwa ia kebal dari konsekuensi akan hal yang telah ia perbuat.