KILATAN CAHAYA DI JENDELA KERETA
Penulis:Athallah Wafa Baihaqi
Saya berada di Kereta Api Taksaka Malam, gerbong eksekutif yang dingin, melaju dari Yogya menuju Jakarta. Pukul 02.00 dini hari. Lampu sudah dimatikan. Semua orang tertidur, kepala mereka bersandar pada bantal leher atau jendela yang bergetar.
Saya tidak bisa tidur. Bukan karena dinginnya gerbong, melainkan karena deadline yang terasa seperti belenggu. Angka-angka presentasi dingin dan tajam menuntut perhatian, membuat saya mencengkeram ponsel yang berisi ratusan slide pekerjaan. Kenyamanan mahal ini adalah ironi—saya membeli kemewahan ini untuk mengejar pekerjaan yang justru merenggut kedamaian saya.
Saya hanya menatap ke luar jendela yang gelap, membiarkan hutan, sawah, dan desa di Jawa Tengah menjadi bayangan buram yang melesat. Kegelapan itu total, hanya dipecahkan oleh kilatan oranye lampu sinyal stasiun—perintah keras dari sistem untuk terus melaju, tanpa jeda.
Konflik Tiga Detik: Jantung yang Berdenyut Melawan Kecepatan
Tiba-tiba, saat kereta melintasi area yang sangat terpencil, saya melihatnya: sebuah jendela rumah yang menyala sendirian di tengah kegelapan ladang.
Itu bukan cahaya lampu listrik yang terang dan dingin seperti di kantor saya. Itu adalah cahaya lampu minyak atau obor, berwarna kuning keemasan yang hangat dan berdenyut, seolah-olah jantung kecil yang berjuang melawan malam. Di balik kilasan jendela kecil itu, siluet samar terlihat—seorang ibu, mungkin, yang sedang menyiapkan makanan dini hari atau menjahit pakaian.
Kereta saya melaju dengan kecepatan 100 km/jam. Saya melihatnya selama tidak lebih dari tiga detik.
Namun, kilatan cahaya itu melekat. Di gerbong eksekutif ini, kami didorong oleh ambisi dan teknologi canggih. Tetapi di sana, di tengah kegelapan yang tak terbatas, ada kehidupan yang berlangsung dengan ritme yang jauh lebih lambat, lebih keras, namun lebih jujur dan hanya bergantung pada cahaya sederhana untuk bertahan.
Lampu minyak itu adalah tabrakan psikologis yang menyakitkan. Itu adalah pengingat bahwa di balik kecepatan modern yang membutakan kita, ada jutaan cerita tentang ketekunan yang sunyi. Ia menanyakan: Apakah kecepatan yang kau kejar ini sepadan dengan kehilangan kedamaian yang dimiliki sosok di balik jendela itu? Perjalanan penting saya, rapat, dan deadline tiba-tiba terasa dangkal dan relatif.
Pilihan dalam Kegelapan
Cahaya itu menghilang. Kegelapan kembali, tapi rasanya sudah berbeda. Itu bukan lagi kegelapan malam, melainkan ruang untuk sebuah pilihan.
Saya merasakan dorongan kuat untuk meraih laptop di tas ransel saya—dorongan untuk menambahkan satu jam kerja lagi demi meredakan kecemasan Jakarta.
Namun, saya memilih untuk tidak melakukannya. Kilatan oranye sinyal kereta adalah perintah untuk berlari. Tetapi denyut emas lampu minyak itu adalah perintah untuk berhenti.
Saya menutup mata. Saya membiarkan kehangatan kilatan emas itu menjadi bantal leher saya, menenangkan hiruk pikuk angka dan ambisi di kepala. Saya akhirnya tidur, membawa bekal yang berbeda untuk menyambut kesibukan Jakarta: Kecepatan modern tidak selalu berarti kemajuan.