Lapar yang Menepi, Ilmu yang Menetap
Karya: Cheril Vidia Nur Fitri
Matahari tepat di atas ubun-ubun, menyengat aspal jalanan hingga tampak bergelombang oleh fatamorgana. Di sudut perpustakaan kota yang sejuk namun sunyi, Aris menyandarkan punggungnya pada rak kayu tua. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah protes alami dari tubuh yang sudah tidak menyentuh makanan sejak fajar menyingsing.
“Baru jam satu siang,” gumamnya, menelan ludah yang terasa kering.
Di hadapannya terbentang kitab tebal tentang sejarah peradaban. Aris sedang mengejar beasiswa, dan Ramadhan kali ini terasa dua kali lipat lebih menantang. Baginya, lapar bukan sekadar menahan haus dan nafsu makan, tapi ujian fokus saat konsentrasi mulai buyar tertutup bayangan es kelapa muda.
Ia teringat pesan kakeknya sebelum berangkat ke kota:
“Lapar itu tamu, ris. Dia datang waktu subuh, pamit waktu magrib. Tapi ilmu itu penghuni tetap. Kalau kamu beri dia tempat, dia tidak akan pernah pergi.”
Aris mencoba mempraktikkan filosofi itu. Setiap kali rasa perih di lambung menyentak, ia justru membuka bab baru. Ia menemukan bahwa ketika fisik melemah, jika dipaksa, batin justru menajam. Saat membaca tentang kegigihan para ilmuwan masa lalu yang belajar di bawah temaram lilin dengan perut kosong, rasa laparnya mendadak terasa… sepele.
Waktu terus merayap. Akhirnya, azan Magrib berkumandang dari masjid di seberang jalan. Aris menutup bukunya dengan helaan napas lega. Ia membatalkan puasa dengan seteguk air putih dan sebutir kurma.
Dalam hitungan menit, rasa lapar yang tadi terasa menyiksa itu lenyap seketika. Perutnya kenyang, tenggorokannya basah, dan penderitaan selama dua belas jam tadi seolah tidak pernah terjadi. Hilang tanpa bekas.
Namun, saat ia berjalan pulang, isi bab yang ia baca tadi tentang rumus-rumus peradaban, torehan sejarah, dan wawasan baru yang masih tersimpan rapi di kepalanya. Ilmu itu tidak ikut hilang bersama rasa haus. Ia menetap, menjadi bagian dari cara Aris berpikir dan melihat dunia.