Laundra
Karya: Cheril Vidia Nur Fitri
“Aku ingin makan jantungmu!”
Kalimat itu meluncur begitu saja, seketika membekukan riuh rendah di ruang baca menjadi keheningan yang mencekam. Aku terlalu fokus dengan suasananya sampai-sampai aku tak sadar ia menarik tanganku dan membawaku ke rooftop.
“Hei Dyana! Apa maksudmu bicara seperti itu!?” tanyanya dengan suara keras yang terasa seperti bercanda di telingaku. “Kamu hampir membuat ribut satu ruangan loh, kamu ngga liat apa di dinding ruang baca ada tulisan quiet area?”
“Aku tidak melihatnya, jadi bukan salahku, tapi salah orang yang menempelkannya di tempat yang tidak terlihat,” sekarang aku kena getahnya, padahal aku sudah lihat di setiap sudut. Mungkin besok aku harus bawa senter dan kaca pembesar, batinku. “Sudahlah Laut, hal yang berlalu biarlah berlalu, sebagai permintaan maaf besok aku traktir kamu seharian dahh, mau ngga?”
“Tapi Dyan—” bel berdenting keras menandakan 10 menit lagi kelas akan dimulai telah memotong kalimat yang belum terselesaikan.
“Sudah ya Laut, aku ke kelas duluan, ” meskipun aku meninggalkan suasana cheerful di sekitarnya, tapi malah di dominasi oleh suasana kehilangan. Aneh sekali. Saking terbarunya aku menuju kelas, aku tidak menyadari bahwa buku catatan ku jatuh di tangga dan Laut memungutnya. Ia membacanya sebentar dan tidak percaya pada isinya.
“Kardiomiopati!?” peliknya tak percaya.
Matanya terus terpaku pada buku catatan itu, kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga menemukanku pingsan di sudut tangga. Buku itu jatuh dari genggaman Laut dan ia berlari ke arahku yang tergeletak tak sadarkan diri. Wajahnya dipenuhi kepanikan saat ia mencoba membangunkanku.
Kepanikan hebat melanda saat ia mencoba menyentakku dari tidur. ‘Dyana! Bangun, Dyan!’ serunya parau. Suaranya terus bergema di telingaku, disusul tepukan-tepukan ringan di pipi yang terasa samar. Namun, tubuhku terasa begitu berat, seolah enggan untuk kembali ke dunia nyata. Di tengah pertengkaran batinku antara kegelapan dan kesadaran, suara langkah kaki yang berat meresap di koridor yang sunyi.
“Siapa di sana? Ini sudah jam masuk!” seru Pak Cipto, satpam sekolah yang sedang memastikan para siswa sudah masuk kelas. Wajahnya yang tegas tiba-tiba berubah saat melihatku tak sadarkan diri di pangkuan Laut.
“Astaga Dyana, pasti jantungnya kambuh lagi ya nduk…” sayup-sayup kudengar suara Pak Cipto sebelum beliau bergegas mengambil tandu dan membawaku ke UKS.
Lampu UKS yang berpendar pucat terasa menyilaukan saat aku akhirnya benar-benar sadar setelah beberapa waktu. Bau karbol yang tajam menusuk hidung, mengingatkanku pada tempat yang paling aku benci di dunia ini: rumah sakit. Tapi kali ini berbeda. Ada aroma parfum oceanic yang samar—aroma khas Laut.
Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang UKS, kepalanya tertunduk lesu. Di pangkuannya, buku catatanku terbuka lebar. Halaman yang ia baca adalah halaman yang paling ingin kusembunyikan: Daftar Hal yang Ingin Kulakukan Sebelum Detak Terakhir.
“Sejak kapan, Dy?” suaranya rendah, nyaris menyerupai bisikan angin. Aku mencoba duduk, mengabaikan rasa pening yang menghantam.
“Sejak awal semester dua. Dokter bilang katupnya semakin lemah. Aku hanya… aku hanya ingin menjalani hari-hari biasa tanpa dikasihani, Laut.” Ia mendongak. Matanya yang biasanya jenaka kini terlihat redup, digantikan oleh gumpalan emosi yang sulit didefinisikan.
“Hari-hari biasa? Kamu menyebut pingsan di tangga dan membuatku hampir mati ketakutan sebagai ‘hari biasa’?” Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu dengan gelisah. “Kamu menulis di sini… kamu ingin makan jantungmu sendiri karena merasa jantung itu pengkhianat. Kamu marah pada tubuhmu sendiri, tapi kenapa kamu nggak membagi kemarahan itu denganku?”
“Karena… karena kamu adalah laut’” jawabku lirih. “Laut itu luas, tenang, dan membuatku merasa bisa bernapas lega. Kalau aku memberitahumu, kamu akan berubah menjadi badai. Kamu akan menjagaku seperti porselen yang mudah retak, dan aku benci itu.” Laut terhenti. Ia menatapku lama, lalu perlahan kembali duduk di tepi ranjang. Ia meraih tanganku, menempelkan telapak tanganku ke dadanya sendiri. Di sana, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang, kuat, dan penuh kehidupan.
“Dengar, Dyana,” katanya dengan nada yang jauh lebih lembut namun tegas. “Jantungmu mungkin sedang lelah. Tapi jantungku? Dia sehat. Dia kuat. Jadi, kalau jantungmu mulai menyerah, pinjam detak jantungku. Kita bagi dua ya bebannya,” kalimatnya membuatku merasakan sesuatu yang hangat merambat ke hatiku—harapan. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian dengan rahasia ini.
“Besok,” lanjut Laut sambil mengusap air mata di pipiku, “kita coret satu poin dari daftar di catatan mulai ya… poin nomor empat—Melihat matahari terbenam dari puncak tertinggi kota. Aku akan membawamu ke sana. Bukan sebagai pasien, tapi sebagai Dyana yang menyebalkan, yang selalu mendebatku di area dilarang bicara.” Aku tertawa kecil di sela tangis.
“Tapi besok ada ulangan matematika, Laut.”
“Persetan dengan matematika, lagi pula dunia tidak akan kiamat dengan ulangan matematika,” sahutnya sambil tersenyum tipis, meski matanya masih menyiratkan luka. “Dunia nggak akan kiamat kalau kita bolos sekali demi mengejar matahari.”
“Tapi Lau—”
“Sudah Dyana, aku juga ingin kamu bahagia.”
Malam itu, di dalam UKS yang sunyi, Laut sudah kembali ke asramanya. Sementara aku masih terpaku di sini, menyadari satu hal—meski ia adalah badai yang bisa menghancurkan, ia juga dermaga tempatku pulang. Dan mungkin—hanya mungkin—jantungku bisa bertahan sedikit lebih lama jika dia adalah alasannya untuk tetap berdetak.
Esok sore, Laut benar-benar membuktikan ucapannya. Saat bel istirahat tiba, ia sudah menungguku di sepan gerbang asrama dengan motornya. Ia bahkan membuat surat izin palsu dengan alasan janji temu dokter penting.
“Dyana! Ayo cepetan!” teriaknya, senyumnya merekah meninggalkan jejak manis di tengah Bulan April. Aku berlari kecil ke arahnya selaras dengan angin sore yang meniup rok seragamku.
“Oke!” dalam seketika, motornya melaju membelah jalanan kota yang ramai, menuju ke Puncak B29.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit itu membuatku tertidur di bahunya. Menyadari aku sedang tertidur, ia menggendong ku—membawaku ke area camping ground dan menyewa tenda di sana. Laut meletakkanku perlahan di dalam tenda yang telah disewa. Cahaya keemasan matahari sore mulai menyapu puncak bukit, menciptakan siluet indah pada pepohonan di sekitar kami. Aku terbangun oleh kelembutan angin yang masuk melalui celah tenda.
“Sudah bangun, Ratu Tidur?” suara Laut terdengar lembut, ia duduk di sampingku sambil memegang termos kecil.
Aku mengucek mata, “Kamu curang, aku kan mau lihat perjalanannya.”
Laut tertawa kecil, “Kamu pulas banget, nggak tega banguninnya. Lagian, pemandangan utamanya baru mau dimulai.”
Kami keluar dari tenda dan duduk di tepi camping ground yang menghadap ke cakrawala. Kota di bawah sana tampak seperti hamparan titik cahaya yang mulai menyala satu per satu. Di depan kami, matahari perlahan tenggelam, mewarnai langit dengan spektrum oranye, merah muda, dan ungu yang menakjubkan. Aku terdiam, terpaku pada keindahan di depan mata. Ini jauh lebih indah dari yang pernah kubayangkan. Laut benar—dunia tidak kiamat karena satu ulangan matematika.
“Cantik, kan?” bisik Laut, suaranya sedikit serak.
Aku mengangguk, masih tak bisa berkata-kata. “Terima kasih, Laut. Ini… ini sempurna.”
Laut tersenyum, senyum tulus yang jarang kulihat. “Sama-sama, Dyana. Aku senang kalau kamu suka.”
Saat kegelapan mulai merayap naik, bintang-bintang mulai bermunculan. Kami berdua duduk dalam keheningan yang nyaman, berbagi kehangatan dari termos teh panas dan momen langka kebahagiaan murni. Di puncak ini—Laut di sisiku—aku lupa akan jantungku yang lemah. Aku hanya merasakan detak jantungnya yang kuat, seolah meminjamkannya kepadaku, tepat seperti janjinya.
Aku menoleh ke arah Laut. “Laut, memangnya pengurus asrama tidak akan mencari kita?”
“Tenang saja Dyan, mereka tidak akan mencari kita, kan sekarang akhir pekan. Jadi, meskipun kita menginap sampai besok, kita tidak akan dicari.”
“Benar ya?” bisikku pelan, hampir tak terdengar di antara desau angin malam.
Laut menoleh, tatapannya yang biasanya tajam kini melunak, seolah memantulkan cahaya bintang-bintang di atas kami. “Benar, Dyan. Malam ini hanya milik kita. Tidak ada asrama, tidak ada aturan, dan tidak ada tugas matematika yang menyebalkan itu.”
Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak sebelum akhirnya menggenggam jemariku yang mulai mendingin. Hangat tangannya menjalar, memberikan rasa tenang yang asing namun sangat kunikmati. Kami kembali terdiam, membiarkan keheningan gunung berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Namun, di tengah kedamaian itu, sebuah pikiran melintas di benakku. Tentang jantungku yang lemah, tentang rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat dari semua orang—termasuk dia. Aku bertanya-tanya, apakah ini nyata, ataukah ini hanya mimpi indah yang sengaja dipinjamkan semesta sebelum aku kembali ke tangannya?
“Laut,” panggilku tiba-tiba, memecah malam penuh bintang yang syahdu.
“Kalau nanti… kalau suatu saat aku sudah ngga ada, ingatlah pemandangan ini, ingatlah kedinginan jemariku, ingatlah cahaya bintang itu. Ingatlah aku, aku yang membuatmu bolos ulangan matematika.”
Laut mengernyit, menatap profil samping wajahku di bawah cahaya rembulan. “Kenapa bicara begitu?”
Aku tersenyum tipis—senyuman yang terasa sedikit pahit. Ia melepaskan genggamannya hanya untuk merangkul bahuku, menarikku lebih dekat ke arahnya. “Aku ingin kamu tahu. Supaya kamu punya alasan untuk terus melihat ke depan, meski tanpa aku.”
Malam itu, di puncak yang sunyi, aku menyadari satu hal. Ada sesuatu yang Laut sembunyikan di balik sikap tenangnya, sebuah beban yang mungkin sama beratnya dengan apa yang kupikul. Dan di sinilah kami, dua jiwa yang rapuh, mencoba mencari kekuatan di tengah gelapnya malam yang membuat kami tertidur sembari menatap bintang—berharap fajar tak akan pernah datang terlalu cepat.
Semburat jingga perlahan memudar, digantikan oleh biru langit yang bersih saat matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Udara dingin Puncak B29 yang tadinya menusuk, kini terasa lebih bersahabat menyentuh kulit. Dyana terbangun lebih dulu. Ia menemukan kepalanya masih bersandar di bahu Laut, yang ternyata juga sudah terjaga—menatap hamparan awan di bawah mereka dengan senyum tipis.
“Pagi, Dy,” bisik Laut. Suaranya serak, tapi terdengar jauh lebih segar dibanding semalam.
Dyana meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Pagi, Laut. Kita… benar-benar berhasil melihat matahari terbit dari sini.”
Setelah puas menyesap udara pegunungan untuk terakhir kalinya, mereka memutuskan untuk turun. Perjalanan turun terasa lebih ringan. Keheningan di antara mereka bukan lagi karena canggung, melainkan rasa tenang setelah berbagi rahasia di bawah bintang-bintang.
Begitu mencapai kaki bukit dan kembali ke area yang lebih padat, Laut mengendarai motornya dan berhenti di depan sebuah Indomaret yang tampak mencolok dengan lampu neonnya di antara kabut pagi yang mulai menipis.
“Ayo turun sebentar. Aku butuh asupan gula, dan kurasa kamu butuh sesuatu yang hangat,” ajak Laut.
Di dalam toko yang dingin itu, mereka berjalan menyusuri lorong-lorong kecil. Pemandangan ini terasa sangat kontras dengan suasana di puncak tadi malam. Laut mengambil dua botol minuman isotonik dan sebungkus roti cokelat, sementara Dyana memilih segelas cokelat panas instan dari mesin kopi di sudut toko.
“Dyan!” Laut menunjuk rak cokelat. “Ini poin nomor tujuh di catatanmu? ‘Makan cokelat sampai kenyang saat sarapan’?”
Dyana tertawa kecil, tawa yang membuat matanya menyipit tulus. “Kamu sudah membaca banyak ya? Sampai-sampai hafal isinya”
Laut menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang samar. “jadi… habis ini mau langsung pulang ke asrama atau masih mau jalan-jalan?”
“Langsung pulang aja, soalnya tugasku banyak yang belum selesai. Mana sudah mau akhir semester lagi… huft…”
“oke oke”
Di genggamanku, gelas cokelat panas dari Indomaret tadi sudah mendingin, tapi kehangatan di hatiku justru semakin membara. Kami sampai di parkiran belakang asrama saat matahari sudah mulai tinggi, menyinari gedung-gedung kaku yang biasanya terasa seperti penjara, namun kali ini terlihat sedikit lebih bersahabat.
“Dyan, cepat masuk lewat pintu samping. Biar aku yang memancing perhatian Pak Cipto di depan,” bisik Laut sambil melepas helmnya. Matanya yang biasanya jenaka, kini menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—seperti ada ketakutan yang ia sembunyikan di balik keberaniannya.
Aku hanya mengangguk, lalu berlari kecil menuju kamarku. Sesampainya di dalam, aku segera membuka buku catatanku. Halaman “Daftar Hal yang Ingin Kulakukan Sebelum Detak Terakhir” itu kini tidak lagi terasa seperti sebuah kutukan. Dengan tangan gemetar, aku mencoret poin nomor empat. Melihat matahari terbenam dari puncak. Berhasil.
Minggu-minggu berikutnya adalah tentang bagaimana kami menjadi pencuri waktu yang handal. Di tengah hiruk-pikuk persiapan ujian kelulusan, kami justru sibuk mewujudkan daftar konyolku.
Ada sore di mana kami duduk di sebuah restoran steak mewah di pusat kota. Aku memaksa Laut memakai kemeja rapi yang membuatnya terlihat sangat tampan sekaligus kikuk. Kami memesan porsi terbesar hanya untuk tertawa saat aku tersedak saus dan Laut dengan panik memberiku air putih sambil mengomel panjang lebar.
Lalu ada hari di mana kami pergi ke mal hanya untuk berbelanja baju biru—warna yang identik dengan namanya. Kami berjalan dari satu gerai ke gerai lain sampai kakiku terasa seperti mati rasa dan napasku mulai memendek. Laut tidak mengeluh sedikit pun, ia justru dengan senang hati membawakan semua belanjaanku, seolah dia adalah pengawal pribadiku.
“Dyan, ini poin terakhir untuk hari ini,” kata Laut saat kami duduk di taman kota, di depan sebuah es krim sundae raksasa dengan lima rasa berbeda.
“Kenapa? Aku masih kuat, Laut,” protesku, meski sebenarnya dadaku mulai terasa seperti dihimpit batu besar.
Laut menghela napas, jemarinya mengusap noda es krim di sudut bibirku. “Jantungmu mungkin kuat mendebatku, tapi tubuhmu butuh istirahat. Kita masih punya hari esok, kan?”
Namun, hari esok itu ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Tiga hari sebelum ujian kelulusan, kegelapan itu datang tanpa peringatan. Saat aku sedang merapikan seragam di depan cermin, duniaku tiba-tiba berputar. Hal terakhir yang kuingat hanyalah suara ibu yang menjerit, sebelum semuanya menjadi hitam pekat.
Aku terbangun di ruang ICU dengan selang oksigen yang mengikat wajahku. Bau karbol yang menyengat kembali memenuhi indra penciumanku. Aku benci tempat ini. Tapi kemudian, aku melihat Laut duduk di kursi samping tempat tidur, masih mengenakan seragam sekolah yang berantakan.
“Aku sudah meminta izin pada dokter, Laut. Besok aku ingin keluar sebentar saja,” bisikku saat aku cukup kuat untuk bicara.
Sehari sebelum acara kelulusan, ia membawaku ke sebuah pantai yang sepi. Matahari pagi menjelang siang bersinar terik, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air yang biru tak berujung. Aku duduk di kursi roda, menatap ombak yang berkejar-kejaran. Laut duduk di pasir, tepat di samping kakiku.
“Laut, lihat laut itu,” aku menunjuk ke arah cakrawala. “Luas, dalam, dan tidak pernah berhenti bergerak. Itulah kamu. Kamu adalah laut yang menampung segala beban yang kubawa tanpa pernah bertanya kenapa. Dan aku… aku hanyalah ikan kecil yang berenang di dalamnya. Ikan tidak akan bisa hidup tanpa lautnya, kan? Tapi laut… ia akan tetap luas dan indah, meskipun satu ikan kecil di dalamnya sudah tidak ada lagi.”
Laut menggenggam tanganku yang kini terasa sangat dingin. “Ikan itu tidak hanya berenang, Dyan. Dia memberi warna. Tanpanya, laut ini hanya akan menjadi hamparan air yang hampa.”
Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi roda. “Janji ya, Laut? Besok saat kelulusan, kamu harus memakai togamu. Kamu harus naik ke panggung itu sebagai lulusan terbaik. Aku akan ada di sana. Aku janji, aku akan melihatmu.”
Pagi itu, 2 Juni 2025
Aula sekolah riuh dengan suara musik dan tawa. Aku membayangkan Laut duduk di barisan depan dengan wajah tegangnya. Di sini, di ruang ICU yang dingin, aku juga bersiap. Napas ku terasa semakin berat, setiap tarikan udara terasa seperti perjuangan yang luar biasa. Mataku mulai meredup, tapi aku menolak untuk menyerah. Aku ingin bertahan sampai namamu dipanggil, Laut.
“Kepada lulusan terbaik tahun ini, dengan prestasi akademik dan non-akademik… Launtra Bahtraga!”
Suara riuh tepuk tangan di aula sekolah seolah bergema sampai ke dalam kamarku. Di saat yang bersamaan, di layar monitor jantung di sampingku, garis hijau itu mulai bergerak tak beraturan sebelum akhirnya berubah menjadi satu garis lurus yang panjang.
Beennnggggg…
Aku mengembuskan napas terakhirku tepat saat Laut melangkah maju di atas panggung. Aku menepati janjiku, Laut. Aku hadir di sana, dalam hembusan angin yang menerpa wajahmu, dalam detak jantungmu yang kuat.
Setelah acara selesai, dengan jubah kelulusan yang masih melekat, Laut berlari menuju rumahku. Ibuku, dengan mata sembab, memberikan sebuah amplop biru yang sudah agak lecek. Laut duduk di tepian ranjangku yang kini kosong, membuka surat itu dengan tangan yang bergetar hebat.
Untuk Launtra Bahtraga, atau yang biasa kupanggil Laut.
Laut, maaf ya aku harus pergi lebih dulu. Kalau kamu membaca ini, artinya aku sudah benar-benar menjadi bagian dari ombak yang kita lihat kemarin. Lucu ya, nama kita seolah sudah dirancang oleh semesta. Kamu adalah ‘Laut’ dan aku ‘Arestrama’ yang artinya pelindung. Tapi justru kamu yang selalu melindungiku dari rasa takut akan kematian.
Terima kasih sudah meminjamkan detak jantungmu saat milikku mulai menyerah. Terima kasih sudah mencoret semua daftar konyolku dan membuatku merasa menjadi gadis paling normal di dunia, bukan sekadar pasien yang menunggu waktu.
Aku punya satu ketakutan kecil, Laut… bukan takut akan sakitnya, tapi takut jika kehadiranku tidak berbekas di hati siapa pun. Jadi, aku ingin bertanya… apakah aku bisa berbekas di hatimu? Apakah ada ruang kecil di sana yang akan selalu menyimpan namaku saat kamu menatap laut?
Jangan lupakan aku ya, Laut. Tapi tolong, jangan berhenti berlayar. Laut tidak boleh mati hanya karena satu ikan kecilnya sudah pulang ke dasar samudra. Teruslah berlayar, capai impianmu di kampus itu, dan jadilah laut yang paling hebat.
Sampai jumpa di matahari terbit yang lain.
Dyana Arestrama
Laut memeluk surat itu erat-erat, air matanya jatuh membasahi kertas biru yang harum parfum oceanic itu. Di luar, matahari mulai teggelam, mewarnai langit dengan spektrum yang sama persis seperti sore itu di Puncak B29. Dan di dalam hatinya, ia tahu, Dyana tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia telah menjadi arus yang akan selamanya membawanya pulang.