Lebaran Tanpa Kursi di Ujung Meja

Lebaran Tanpa Kursi di Ujung Meja

 

Karya: Mardlatillah Qoonita Ahmad, IX A

 

Sejak pagi rumah itu dipenuhi aroma kue.

Di dapur, Ibu baru saja mengeluarkan nastar dari oven. Aroma mentega hangat memenuhi seluruh ruangan. Di meja makan, toples-toples kosong sudah berjajar rapi menunggu untuk diisi.

 

“Gendis, tulung jupukna gula alus nang lemari,” kata Ibu sambil memegang loyang panas.

“Inggih, Bu,” jawab Gendis.

 

Ia berjalan menuju lemari dapur. Namun sebelum kembali, matanya sempat menatap ruang makan.

Di ujung meja, ada satu kursi.

Kursi itu masih sama seperti dulu.

Hanya saja… sudah lama tidak ada yang duduk di sana.

Dulu, setiap kali Ibu membuat kue Lebaran, Bapak selalu duduk di kursi itu sambil memperhatikan dari jauh.

 

“Mung ndelok wae,” katanya santai.

 

Tetapi Gendis tahu, Bapak sebenarnya sedang menunggu waktu berbuka.

Begitu azan magrib terdengar, Bapak akan langsung mengambil satu kue dari loyang.

 

“Mung siji,” katanya meyakinkan.

 

Namun beberapa menit kemudian, jumlahnya sudah tidak bisa dihitung lagi.

 

“Mas! Kuwi kanggo Lebaran, dudu kanggo saiki!” protes Ibu dari dapur.

 

Bapak hanya tertawa sambil buru-buru menutup toples.

 

“Lha kan wis buka puasa, oleh mangan,” jawabnya ringan.

 

Gendis selalu tertawa melihatnya.

Kadang Ibu pura-pura marah, tetapi akhirnya ikut tersenyum juga.

Kenangan itu terasa begitu dekat.

 

Namun tahun ini berbeda.

Ini adalah Lebaran pertama tanpa Bapak.

Rumah tetap dibersihkan seperti biasa.

Karpet dicuci. Jendela dilap hingga mengkilap.

Kue-kue tetap dibuat.

Namun entah mengapa, rumah terasa lebih sunyi.

 

Sore sebelum Lebaran, Gendis membantu Ibu memasukkan kue ke dalam toples.

Ia mengambil satu nastar lalu tersenyum kecil.

 

“Ibu…” katanya pelan.

“Inggih, Nduk?”

“Menawi Bapak tasih wonten… mesthi setengah kue niki sampun entek saking minggu kepengker.”

 

Ibu berhenti sejenak.

Tangannya yang sedang menata kue perlahan terdiam.

Namun kemudian Ibu tersenyum tipis.

 

“Inggih… Bapakmu pancen boten sabaran menawi soal kue.”

Gendis dan Ibu tertawa kecil.

 

Tawa itu hangat, tetapi ada rindu yang terselip di dalamnya.

Malam takbiran pun tiba.

Suara takbir menggema dari masjid, mengalun lembut di udara malam.

Gendis duduk di ruang tamu sambil memandangi foto Bapak yang tergantung di dinding.

Dalam foto itu, Bapak tersenyum seperti biasa.

Hangat.

Seolah masih ada di rumah ini.

 

“Pak…” bisik Gendis pelan.

“Sesuk wis Lebaran…”

Ia teringat bagaimana dulu Bapak selalu berkata,

“Sesuk awake dhewe mangan opor sing akeh!”

Gendis tersenyum kecil.

 

Namun beberapa detik kemudian, matanya mulai terasa hangat.

Ia cepat-cepat mengusap air matanya.

 

Pagi Idul Fitri akhirnya tiba.

Orang-orang berjalan menuju masjid dengan pakaian terbaik mereka.

Setelah sholat Id selesai, Gendis dan Ibu pulang ke rumah.

Di ruang tamu, Gendis duduk di depan Ibunya.

 

“Ibu… kula nyuwun pangapunten, menawi kula gadhah kathah lepat.”

Ibu langsung memeluknya erat.

“Inggih, Nduk. Ibu ugi nyuwun pangapunten. Minal aidin wal faizin.”

Pelukan itu terasa hangat.

 

Namun di hati Gendis masih ada ruang kosong yang tidak bisa dijelaskan.

Di meja makan, hidangan Lebaran sudah tersusun rapi.

Ketupat, opor ayam, sambal goreng, dan toples-toples kue yang kemarin mereka buat bersama.

Gendis memandang satu kursi di ujung meja.

Kursi Bapak.

Dulu kursi itu selalu penuh cerita.

Tentang Bapak yang mencuri kue.

Tentang Bapak yang tertawa ketika dimarahi Ibu.

Tentang Bapak yang selalu mengatakan bahwa kue buatan Ibu adalah yang paling enak di dunia.

Gendis menarik napas pelan.

Bapak memang tidak duduk di kursi itu lagi.

Namun kenangan Bapak masih tinggal di rumah ini.

Di dalam tawa yang pernah mereka bagi.

Di dalam aroma kue yang memenuhi dapur.

Dan di dalam doa yang mereka kirimkan setiap selesai sholat.

Gendis tersenyum kecil sambil menatap kursi kosong itu.

 

“Sugeng Riyadi, Pak…” bisiknya pelan.

 

Di luar rumah, suara anak-anak mulai terdengar bermain petasan kecil.

Rumah itu memang terasa lebih sunyi.

Namun Gendis tahu satu hal.

Cinta tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berubah menjadi kenangan yang tinggal selamanya di hati.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...