LITERASI DALAM PEMBUATAN BATIK JUMPUTAN

Pembuatan Batik Jumputan (atau sering disebut teknik ikat celup/ tie-dye) adalah sarana yang sangat kaya untuk membangun literasi siswa, baik literasi baca-tulis, literasi budaya, maupun literasi digital melalui pemanfaatan IFP.

Berikut adalah keterkaitan erat antara praktik Batik Jumputan dengan pengembangan literasi di sekolah:

🎨 1. Literasi Prosedural (Memahami Instruksi)

Membuat batik jumputan membutuhkan ketelitian dalam mengikuti tahapan teknis.

  • Membaca Teks Prosedur: Siswa harus membaca dan memahami urutan kerja (misal: cara melarutkan pewarna, teknik mengikat kain dengan karet/tali, hingga proses fiksasi).

  • Penyusunan Laporan: Setelah praktik, siswa diminta menuliskan kembali langkah-langkah yang mereka lakukan. Ini melatih kemampuan menyusun kalimat yang logis dan runtut.

  • Aplikasi di IFP: Guru dapat menampilkan diagram alur (flowchart) interaktif di layar IFP yang bisa digeser oleh siswa untuk mengecek langkah mana yang sedang mereka jalankan.

📜 2. Literasi Budaya (Asal-Usul & Makna)

Batik jumputan bukan sekadar warna-warni di kain, melainkan bagian dari sejarah tekstil Nusantara.

  • Sejarah Lokal: Siswa mencari tahu asal-usul teknik jumputan (misal: pengaruh teknik Shibori dari Jepang atau Plangi dari Palembang/Jawa).

  • Makna Motif: Membahas bagaimana pola lingkaran atau garis yang terbentuk melambangkan keteraturan atau kebersamaan.

  • Diskusi di IFP: Gunakan IFP untuk menampilkan peta persebaran teknik ikat celup di seluruh Indonesia, sehingga siswa memahami kekayaan ragam hias daerah.

🧪 3. Literasi Sains & Visual (Konteks & Estetika)

  • Literasi Visual: Siswa belajar tentang teori warna (warna primer, sekunder, komplementer). Mereka harus berliterasi secara visual untuk membayangkan: “Jika warna kuning ditimpa biru, akan menjadi hijau.”

  • Literasi Kimiawi: Memahami reaksi antara kain (serat alami vs sintetis) dengan jenis pewarna (napthol, indanthrene, atau pewarna alam).

  • Simulasi IFP: Sebelum mencelup kain asli, siswa bisa menggunakan aplikasi menggambar di IFP untuk mencoba-coba kombinasi warna secara digital agar tidak terjadi kesalahan fatal saat praktik.

📱 4. Literasi Digital & Publikasi

Di era modern, hasil karya harus bisa “berbicara” melalui platform digital.

  • Pembuatan Konten: Siswa membuat video pendek (Reels/TikTok Edukasi) tentang proses membatik mereka.

  • QR Code Karya: Setiap kain jumputan yang dipajang di dinding sekolah diberi QR Code. Saat dipindai, muncul tulisan literasi siswa mengenai filosofi warna dan teknik ikat yang mereka gunakan.

  • E-Gallery di IFP: Semua hasil foto karya siswa diunggah ke folder bersama dan ditampilkan dalam bentuk pameran digital interaktif di layar IFP saat acara parenting atau kunjungan tamu.


💡 Contoh Tugas Literasi Terintegrasi Jumputan:

“Tuliskan sebuah narasi pendek sebanyak 200 kata tentang perjalanan selembar kain putih menjadi kain jumputan yang penuh warna. Gunakan istilah teknis seperti ‘mordanting’, ‘fiksasi’, dan ‘ikat celup’ di dalam tulisanmu.”

 

Melalui Batik Jumputan, literasi tidak lagi dianggap sebagai kegiatan “membaca buku yang membosankan”, melainkan sebuah proses memahami, melakukan, dan menceritakan kembali sebuah karya nyata.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...