Mentari Terbit di Wajahmu
Karya: Cheril Vidia Nur Fitri
Bagi seorang Fitria, sekolah adalah rutinitas yang membosankan. Datang sebelum bel, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas sekolah, dan pulang saat matahari di atas kepala. Baginya, dunia hanya terdiri dari warna coklat tua yang memudar. Hingga pada suatu minggu pagi, ia bertemu dengan seseorang yang sedang melukis pemandangan di taman kota.
Fitria berjalan ke arahnya sembari mengagumi lukisannya. Langkah kakinya terhenti saat keraguan menggerogoti rasa kagumnya. Tangannya yang terangkat saat hendak menyapa, kembali merapat ke sisi roknya. Tanda tanya di kepalanya mendesak saat ia melihat cat menari-nari di atas kanvas. Namun, ketakutan akan dianggap mengganggu keheningan sang pelukis, membuatnya hanya mampu mematung beberapa langkah di belakangnya.
Seiring menarinya cat dan kuas, lukisan itu sudah selesai dan pelukis itu menuliskan namanya di ujung kanvas. Nama Mahaza yang dituliskan dengan tinta emas berkilau di atas seluruh cat.
Tanpa ia sadari, pelukis itu sudah mengetahui keberadaan dirinya sejak awal. Saat ia memutar tubuh, sebuah tangan kokoh menahan gerakannya. Langkahnya terhenti, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat suara sang pelukis memecah keheningan taman.
“Jangan pergi dulu,” cegahnya sambil menatapnya dengan senyuman tipis. “Aku sudah menyisakan satu lembar kanvas, khusus untuk gadis yang sedari tadi menemaniku dalam diam. Kau ingin belajar melukis, kan? “
Fitria tertegun. Kata-kata itu mengalir lembut namun menggetarkan sesuatu di dalam dirinya yang selama ini tertidur. “Aku… aku hanya melihat,” jawabnya gugup, matanya menghindar dari tatapan hangat sang pelukis. Mahaza tersenyum lebih lebar. “Melihat adalah langkah pertama sebelum melukis. Dan kau melakukannya dengan penuh perhatian. Itu lebih dari cukup.”
Untuk pertama kalinya, Fitria duduk di depan kanvas kosong. Tangannya gemetar saat memegang kuas yang diberikan Mahaza. “Lukislah apa yang kau lihat,” bimbing Mahaza dengan sabar. “Bukan hanya dengan matamu, tapi dengan hatimu.”
Awalnya, goresan Fitria kaku dan penuh keraguan. Namun, saat cat mulai menari di atas kanvas, ia merasakan sesuatu yang asing namun indah seperti kebebasan. Rumput hijau, bunga-bunga cerah, langit hangat, dan seorang pelukis yang membimbingnya seraya tersenyum. Menyatu dalam satu kanvas lukis.
Minggu-minggu berikutnya, Fitria belajar melukis dan melihat dunia dari sudut pandang baru dari Mahaza. Suatu sore, Mahaza menghadiahinya kanvas kecil bergambar dirinya, dengan tulisan yang menyentuh hati. Sejak itu, dunia Fitria yang tadinya muram berubah penuh warna. Ia mulai mengabadikan keindahan di sekitarnya, dan kanvas pemberian Mahaza selalu mengingatkannya bahwa kebahagiaan dan warna kehidupan bisa ditemukan dalam diri sendiri dan momen-momen sederhana.