Di Balik Angka 100

  Di Balik Angka 100

oleh: Auliyatun Niswah

 Pagi itu, udara di kelas 9A terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan selembar kertas putih besar yang baru saja ditempel di papan mading kelas: Try Out Tahap III. Bau penghapus dan masakan dari ruangan MBG bercampur dengan suara bisik-bisik gelisah para siswa yang sedang melihat hasil try out mereka masing-masing. Ada yang puas dengan hasil yang dimilikinya, tetapi ada juga yang tidak puas bahkan kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi. Yaya berdiri di barisan paling belakang, sengaja menjaga jarak. Ia tidak perlu menghabiskan tenaga untuk berdesakan untuk mencari tahu di mana namanya berada. Jemarinya terus memainkan ujung seragamnya yang mulai lecek. Baginya, nilai-nilai di papan mading itu bukan hanya sekedar angka, melainkan “tiket masuk” atau “surat penolakan” dari sang Ayah di meja makan nanti malam. Yaya adalah tipe siswa yang selalu pulang dengan punggung tegak dan ceria jika mendapat nilai 95, tapi akan tertunduk lesu jika nilai tersebut berubah menjadi 89. Di sudut lain, Nana terlihat sedang tenang-tenang saja sambil meminum susu yang ia dapatkan dari hasil pembagian MBG. Ia terlihat tidak peduli dengan ujian akhir yang tinggal hitungan minggu itu dan menganggapnya seperti jadwal piket biasa. Sementara itu, Pak Danu, guru BK dengan kacamata yang selalu melorot di hidung, berdiri di ambang pintu kelas. Beliau tidak melihat ke arah mading, melainkan memperhatikan raut wajah satu per satu muridnya—mencari siapa yang mulai “retak” di bawah tekanan.

 Masalah muncul saat Yaya pulang dengan membawa hasil Try Out dengan nilai 85 di mata pelajaran Matematika. Baginya, itu adalah hasil yang memuaskan, tetapi berbeda dengan Ayahnya, itu adalah sinyal bahaya. “Kalau nilaimu segini terus, gimana kamu bisa masuk SMA Negeri di Kota. Mau jadi apa kamu nanti?”. Kalimat itu membuat mental Yaya menjadi sangat lemah, dia mulai merasa bahwa sekolah hanyalah tentang angka, bukan ilmu. Yaya menjadi tidak nafsu makan dan berakhir mengurung diri di kamar, menatap tumpukan buku yang rasanya seperti gunung yang tidak sanggup ia daki

 Di sekolah, suasana makin keruh. Isu tentang “kunci jawaban” yang beredar di grup WhatsApp semakin memanas. Beberapa teman Yaya yang biasanya malas belajar menjadi sangat percaya diri. Mereka berbisik-bisik di belakang kelas, membicarakan iuran untuk membeli bocoran soal ujian akhir dari oknum alumni. Neyra, teman sebangku Yaya yang juga sedang tertekan karena nilai, mengajak Yaya untuk bergabung. “Ya, ayolah. Kita cuma butuh satu kali ‘bantuan’ ini biar orang tua kita seneng. Lo mau kan dapet nilai 90 tanpa harus begadang sampai tipes?” Yaya bimbang. Melihat teman-temannya yang terlihat sangat santai dibandingkan dengannya yang harus belajar mati-matian sampai matanya berkantung hitam, membuatnya merasa iri. ​Di tengah kebimbangan, Yaya membongkar gudang untuk mencari penggaris lamanya dan menemukan sebuah buku catatan kusam milik almarhum kakeknya yang dulu seorang guru honorer. Di halaman pertama tertulis kalimat sederhana dengan tulisan tangan yang rapi:

 “Ilmu yang didapat dengan mencuri akan menguap saat kau membutuhkannya, tapi ilmu yang didapat dengan peluh akan. menjagamu seumur hidup.” Yaya terdiam lama di gudang yang berdebu itu, memegang buku tersebut dengan tangan yang mulai berkeringat.

Hari-H Ujian Akhir.

 Suasana kelas 9A mendadak hening, hanya ada suara detak jam dinding yang rasanya seperti dentuman sebuah palu. Yaya duduk dengan telapak tangan yang basah. Di sakunya, ponselnya terus bergetar-notifikasi grup WhatsApp yang berisi foto kunci jawaban yang dijanjikan Neyra semalam.

 Yaya melirik ke samping, ia melihat Neyra yang sedang asyik mengarsir bulatan di lembar jawaban seolah-olah ia sudah tahu semua isinya di luar kepala. Sedangkan dirinya yang masih terpaku pada soal nomor 15. Sebuah soal cerita Matematika yang rumit, yang semalam sudah ia pelajari hingga pukul 2 malam, tapi sekarang otaknya mendadak blank.

Cuma satu lirik ke HP, Ya. Cuma satu nomor” bisik setan di telinganya.”

 Saat tangannya mulai merogoh saku, ia melihat Pak Danu yang sedang berjaga di depan. Pak Danu tidak sedang mengawasi gerak-gerik tangan siswa, melainkan sedang menatap keluar jendela dengan tulus-seolah beliau percaya penuh dengan integritas para murid-muridnya. Bayangan kutipan di buku catatan kakeknya mendadak muncul di kepala Yaya:

ilmu yang didapat dengan peluh akan menjagamu seumur hidup.

 Yaya menarik tangannya kembali. Ia mematikan ponselnya tanpa melihat isinya sama sekali. Ia memilih untuk memejamkan mata sejenak, mengatur napas, dan mencoba menghitung ulang soal nomor 15 itu dari awal dengan menggunakan logika, meskipun resiko nilainya jatuh sudah membayang di depan mata.

Tiga Minggu Kemudian: Hari Pengumuman

 Mading sekolah kembali ramai. Yaya berjalan pelan, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat namanya berada di urutan menengah. Nilai Matematikanya? 82. Bukan 90 seperti yang diinginkan oleh Ayahnya, apalagi 100 seperti nilai Neyra yang bertengger di puncak peringkat. 

 Namun, ada pemandangan berbeda di ruang guru. Neyra dan beberapa anak lainnya dipanggil masuk dengan wajah pucat. Ternyata, tim koreksi menemukan pola jawaban yang identik secara tidak wajar pada soal-soal sulit, dan mereka harus menjalani ujian ulang dengan pengawasan super ketat karena indikasi kecurangan.

 Sore harinya, Yaya duduk di teras rumah. Ayahnya datang dengan membawa selembar kertas hasil ujian itu. Yaya sudah siap untuk dimarahi akibat nilainya yang kurang memuaskan. Namun, ayahnya justru duduk di sampingnya dan menepuk bahunya pelan.

 “Pak Danu nelpon Ayah tadi siang. Beliau bilang, kamu satu-satunya siswa yang mengerjakan soal nomor 15 dengan cara manual yang unik, meskipun hasilnya sedikit meleset. Beliau bangga karena kamu jujur,”kata ayah dengan nada yang belum pernah Yaya dengar sebelumnya-nada bangga. “Nilai 82 yang jujur lebih baik daripada nilai 100 yang hasil kecurangan, Ya. Ayah yang salah sudah menuntut kamu terlalu banyak.

 Yaya merasa beban berat yang selama setahun ini menggelayuti bahunya mendadak luruh. Ia menyadari bahwa pendidikan kelas 9 bukan hanya tentang lulus ujian sekolah, tapi tentang lulus ujian karakter.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...