Sang Pemenang
Bangunlah, wahai jiwa yang sempat meredup
Dunia ini terlalu luas untuk kau tinggalkan
Berapa banyak badai yang sudah kau tutup
Hingga kini kau masih berdiri di sini, menantang waktu
Luka yang hadir itu bukan tanda kelemahanmu
Melainkan medali dari perang yang telah kau lalui
Setiap jatuh bangunmu adalah pupuk bagi ketangguhanmu
Berharap kau tumbuh lebih tinggi dari yang kau lalui
Kau adalah nahkoda di samudra yang garang
Tak perlu takut pada ombak yang menderu kencang
Sebab di dalam dadamu, ada api yang mengerang
Lebih panas dari mentari, lebih kuat dari apapun
Jangan bandingkan langkahmu dengan mereka
Karena takaran tak mungkin sama
Ibarat bunga punya musimnya untuk mekar dan berbuah
Teruslah berjalan meski dengan langkah sederhana
Nanti kan tiba saatnya
Dunia kan berpihak pada kita
Di Ambang Cakrawala
Bukan bentangan karpet merah yang kulihat di sana
Deretan tebing yang menantang sapa
Masa depan tidak datang dengan bungkusan pita
Ia adalah rahasia yang tersembunyi di balik luka
Udara kian berat, sesak oleh tanya
Tentang jejak yang hilang ditelan deru biru
Langkah terseok penuh asa dan sia-sia
Saat keringat jatuh mengucur
Namun hasil yang diharap tak kunjung menyapa
Tak semudah yang diharapkan memang
Sebab yang indah tak pernah dipetik dengan mudahnya
Ia butuh hati yang tegar saat badai menerjang
Jiwa yang tetap menyala meski malam kian garang
Kita adalah penenun di tengah benang yang kusut
Mencari pola di antara harapan yang hampir surut
Jangan pernah putus asa apalagi berhenti berharap
Meski punggung kian berkerut
Hanya mereka yang mendaki, yang takkan pernah takut
Masa depan memang tak menjanjikan kemudahan
Tapi ia menjanjikan makna bagi tiap perlawanan
Masa depan yang sulit memang menakutkan
Tapi di situlah karakter kita benar-benar akan diuji
Bayangan Sunyi
Langit tak lagi punya warna
Hanya kelabu yang membasuh mata
Langkah kaki terasa kian berat
Menyeret bayangan yang nyaris sekarat
Aku berdiri di ruang tanpa pintu
Mencari jawab di antara kebisuan yang membelenggu
Setiap doa yang kupanjatkan
Jatuh kembali, patah menjadi sisa
Waktu bukan lagi penyembuh luka
Hanya pengingat tentang duka yang baka
Ibarat lilin yang habis dimakan api, aku meredup
Ditelan sunyi yang menghimpit sepi
Harapan itu seperti debu, ditiup angin, hilang membiru
Bukan aku tak ingin lagi berjuang
Hanya saja aku telah lelah bertahan
Cahaya di Balik Luka
Retak bukan berarti hancur
Ia adalah celah agar cahaya bisa meluncur
Saat langkah kakiku sempat terhenti
Napasku hari ini adalah janji yang belum mati
Lihatlah tunas yang membelah batu
Tak butuh izin untuk tumbuh satu per satu
Begitu pun aku, di sisa-sisa lelahku
Masih ada kekuatan yang menunggu
Uluran tangan tuk merengkuhku
Jangan paksa diriku untuk terus berlari
Cukup berdiri, dan sapa mentari
Satu hembusan napas, satu pijakan kecil
Adalah kemenangan besar bagi jiwa yang gigih
Badai memang terkadang datang tanpa permisi
Namun ia juga membawa pergi meninggalkan luka di hati
Aku tak mau kian terpuruk apalagi frustasi
Di atas puing, akan ku bangun istana
Yang kokoh, indah, dan lebih bermakna
Kukatakan pada dunia
Aku bisa