Puisi Motivasi

Sang Pemenang

 

Bangunlah, wahai jiwa yang sempat meredup

Dunia ini terlalu luas untuk kau tinggalkan

Berapa banyak badai yang sudah kau tutup

Hingga kini kau masih berdiri di sini, menantang waktu

 

Luka yang hadir itu bukan tanda kelemahanmu

Melainkan medali dari perang yang telah kau lalui

Setiap jatuh bangunmu adalah pupuk bagi ketangguhanmu

Berharap kau tumbuh lebih tinggi dari yang kau lalui

Kau adalah nahkoda di samudra yang garang

Tak perlu takut pada ombak yang menderu kencang

Sebab di dalam dadamu, ada api yang mengerang

Lebih panas dari mentari, lebih kuat dari apapun

 

Jangan bandingkan langkahmu dengan mereka

Karena takaran tak mungkin sama

Ibarat bunga punya musimnya untuk mekar dan berbuah

Teruslah berjalan meski dengan langkah sederhana

Nanti kan tiba saatnya

Dunia kan berpihak pada kita

 

 

Di Ambang Cakrawala

 

Bukan bentangan karpet merah yang kulihat di sana

Deretan tebing yang menantang sapa

Masa depan tidak datang dengan bungkusan pita

Ia adalah rahasia yang tersembunyi di balik luka

 

Udara kian berat, sesak oleh tanya

Tentang jejak yang hilang ditelan deru biru

Langkah terseok penuh asa dan sia-sia

Saat keringat jatuh mengucur

 Namun hasil yang diharap tak kunjung menyapa

 

Tak semudah yang diharapkan memang

Sebab yang indah tak pernah dipetik dengan mudahnya

Ia butuh hati yang tegar saat badai menerjang

Jiwa yang tetap menyala meski malam kian garang

Kita adalah penenun di tengah benang yang kusut

Mencari pola di antara harapan yang hampir surut

 

Jangan pernah putus asa apalagi berhenti berharap

Meski punggung kian berkerut

Hanya mereka yang mendaki, yang takkan pernah takut

Masa depan memang tak menjanjikan kemudahan

Tapi ia menjanjikan makna bagi tiap perlawanan

 

Masa depan yang sulit memang menakutkan

Tapi di situlah karakter kita benar-benar akan diuji

 

 

 

Bayangan Sunyi

Langit tak lagi punya warna

Hanya kelabu yang membasuh mata

Langkah kaki terasa kian berat

Menyeret bayangan yang nyaris sekarat

 

Aku berdiri di ruang tanpa pintu

Mencari jawab di antara kebisuan yang membelenggu

Setiap doa yang kupanjatkan

 Jatuh kembali, patah menjadi sisa

 

Waktu bukan lagi penyembuh luka

 Hanya pengingat tentang duka yang baka

Ibarat lilin yang habis dimakan api, aku meredup

Ditelan sunyi yang menghimpit sepi

Harapan itu seperti debu, ditiup angin, hilang membiru

Bukan aku tak ingin lagi berjuang

Hanya saja aku telah lelah bertahan

 

 

Cahaya di Balik Luka

 

Retak bukan berarti hancur

Ia adalah celah agar cahaya bisa meluncur

Saat  langkah  kakiku sempat terhenti

Napasku  hari ini adalah janji yang belum mati

 

Lihatlah tunas yang membelah batu

Tak butuh izin untuk tumbuh satu per satu

Begitu pun aku, di sisa-sisa lelahku

Masih ada kekuatan yang menunggu

Uluran tangan tuk merengkuhku

 

Jangan paksa diriku untuk terus berlari

 Cukup berdiri, dan sapa mentari

Satu hembusan napas, satu pijakan kecil

Adalah kemenangan besar bagi jiwa yang gigih

 

Badai memang terkadang datang tanpa permisi

Namun ia juga membawa pergi meninggalkan luka di hati

Aku tak mau kian terpuruk apalagi frustasi

Di atas puing, akan ku bangun istana

Yang kokoh, indah, dan lebih bermakna

Kukatakan pada dunia

Aku bisa

 

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...