Di kerongkongan yang kian kering,
Kita berpetualang di lautan kertas.
Mencari sayap yang hilang dalam hening,
Meskipun suara perut bergema keras.
Konon, siapa yang dapat mengangkat sayap itu,
Jiwanya akan abadi di lautan ilmu.
Namun, titah sunyi terus memburu,
Kita harus tetap menahan lapar, meskipun perut menggerutu.
Maka, biarlah aksara menjadi lentera,
Menuntun pena menyingkap rahasia dunia.
Dan ketika sayap itu membentang di cakrawala,
Nama sang petualang akan terukir abadi di helai bulunya.