“Putaran Malam yang Tak Berujung”
Dibuat oleh : Dayinta Listy
Hai semuanya, kali ini aku ingin menceritakan sebuah pengalaman yang sangat menegangkan sekaligus tidak terlupakan saat aku berkunjung ke Jogja. Sore itu aku sedang dalam perjalanan menuju Malioboro. Sepanjang perjalanan aku ditemani canda tawa bersama teman-teman. Hujan rintik-rintik mulai turun, membuat suasana terasa lebih sejuk dan menyenangkan. Walaupun tubuhku sebenarnya sedang sedikit tidak enak badan, aku tetap semangat karena akhirnya bisa sampai di Malioboro, tempat yang sudah lama ingin aku kunjungi. Sesampainya di sana, aku mulai merasa bingung karena tidak membawa payung ataupun jas hujan. Hujan masih turun pelan. Untung saja ada guruku yang sangat baik, namanya Bu Lita. Beliau mengajakku berjalan bersama di bawah payungnya. Aku merasa sangat bersyukur karena tidak perlu berjalan sendirian di tengah hujan. Kami pun mulai berjalan menyusuri Malioboro yang ramai. Lampu-lampu toko mulai menyala dan membuat jalanan terlihat indah. Banyak sekali pedagang yang menjual berbagai macam barang, seperti baju, tas, sandal, dan oleh-oleh khas Jogja. Kami berhenti di beberapa toko untuk melihat-lihat baju.
Setelah cukup lama melihat-lihat, akhirnya aku menemukan baju yang sangat aku sukai. Namun Bu Lita masih sibuk mencari baju yang ingin beliau beli untuk anaknya. Kami terus berkeliling dari satu toko ke toko lainnya. Beberapa menit kemudian, akhirnya Bu Lita juga menemukan baju yang dicarinya. Walaupun barang yang kami cari sudah didapatkan, kami masih tetap berjalan-jalan sambil melihat barang-barang lainnya. Di sana kami juga bertemu dengan beberapa guru dan murid lain yang ternyata juga sedang berbelanja. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Langit mulai gelap dan suasana semakin malam. Kami pun memutuskan untuk kembali ke parkiran bus. Tidak jauh dari toko terakhir yang kami kunjungi, ada pangkalan becak. Bu Lita mengajakku untuk naik becak saja agar lebih cepat sampai. Setelah itu Bu Lita memberikan alamat parkiran kepada tukang becak. Selama perjalanan, kami sempat bercanda dan saling bercerita. Namun setelah beberapa menit, kami sampai di sebuah tempat yang ternyata bukan parkiran tempat bus kami berada. Kami mulai merasa bingung. Aku segera menelpon temanku yang sudah berada di dalam bus. Ternyata benar, kami salah tempat.
Bu Lita kemudian memberikan alamat parkiran yang benar kepada tukang becak. “Kalau parkiran itu masih jauh, Bu, dari sini,” kata tukang becak tersebut. Mendengar itu, kami hanya bisa saling berpandangan. Perjalanan pun dilanjutkan. Namun lama-kelamaan suasana menjadi berbeda. Jalanan yang kami lewati terasa sangat sepi, gelap, dan sunyi. Lampu jalan tidak terlalu terang, dan hampir tidak ada orang yang lewat. Rasa takut mulai muncul di dalam hatiku. Wajah Bu Lita juga terlihat sedikit panik. “Masih lama ya, Pak?” tanya Bu Lita beberapa kali kepada tukang becak. Namun perjalanan terasa seperti tidak ada akhirnya. Kami terus melewati jalan yang sepi. Di dalam pikiranku mulai muncul berbagai macam hal yang membuatku semakin takut. Aku bahkan sempat berpikir apakah tukang becak ini mempunyai niat buruk kepada kami. Tiba-tiba Bu Lita berkata pelan, “Sepertinya kita tadi sudah melewati tempat ini ya?” , “Iya Bu… aku juga merasa begitu,” jawabku. Kami merasa seperti hanya berputar-putar di tempat yang sama.
Keheningan malam membuat suasana semakin menegangkan. Jantungku berdetak sangat cepat. Bahkan sempat terlintas di pikiranku untuk melompat turun dari becak karena terlalu takut. Namun kami mencoba tetap tenang dan terus berdoa agar segera sampai di tempat tujuan. Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa sangat lama, kami melihat area parkiran yang ramai. Ternyata benar, itu adalah parkiran tempat bus kami berada. Beberapa teman dan guru sudah menunggu di depan parkiran agar kami lebih mudah menemukan bus. Saat turun dari becak, aku langsung merasa sangat lega. Semua ketegangan yang tadi aku rasakan seperti hilang begitu saja. Rasanya sangat menenangkan bisa kembali bertemu dengan teman-teman.
Walaupun kejadian itu cukup menegangkan dan melelahkan, ternyata ada juga banyak kejadian lucu dan tak terduga yang kami alami selama perjalanan. Pengalaman itu menjadi kenangan yang sangat berkesan bagiku. Perjalanan itu mengajarkanku bahwa dalam situasi sesulit apa pun, jika kita menghadapinya bersama-sama maka semuanya akan terasa lebih ringan. Aku juga belajar bahwa kesabaran adalah kunci untuk menghadapi setiap masalah. Karena pada akhirnya, setiap masalah pasti akan menemukan jalan keluarnya. Pengalaman di Malioboro itu akan selalu menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah aku lupakan.