SAAT FABIAN BERSUARA
Karya:Felicia Putri Ramadhani IX A (13)
Setiap pagi, Fabian datang paling awal ke sekolah, bukan karena rajin, melainkan untuk menghindari tatapan dan bisik-bisik teman-temannya. Sejak kelas IX, ia sering diejek karena tubuhnya kurus, suaranya pelan, dan kebiasaannya membaca buku. Perlakuan itu membuat Fabian memilih diam dan menarik diri dari lingkungan kelas.
Lama-kelamaan, ejekan berubah menjadi perlakuan yang lebih menyakitkan. Buku Fabian kerap disembunyikan dan namanya dijadikan bahan olokan di grup kelas. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar justru terasa seperti tempat bertahan.
Suatu sore di perpustakaan, Bu Maya melihat Fabian duduk sendirian dengan wajah murung. Saat ditanya, Fabian akhirnya berani menceritakan semua yang ia alami. Mendengar hal itu, Bu Maya memutuskan untuk menasihati seluruh kelas keesokan harinya agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kalau bercanda membuat orang terluka, itu bukan bercanda, tapi bullying,” ucap Bu Maya dengan tegas.
Suasana kelas menjadi hening. Kata-kata itu membuat para siswa menyadari kesalahan mereka. Sejak saat itu, sikap teman-teman Fabian mulai berubah. Fabian pun perlahan berani bersuara dan kembali merasa aman di sekolah, sementara kelas belajar bahwa kata-kata bisa melukai, tetapi juga bisa menyembuhkan.