Satu Detik di Balik Kaca
SMP Garuda tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Elara. Padahal, lapangan sekolah biasanya penuh dengan teriakan siswa yang bermain basket. Namun, di tangan Elara sekarang ada sebuah arloji perak tua yang ia temukan di sudut gudang bawah tangga. Benda itu tampak berdebu, namun jarumnya berdetak dengan suara yang sangat nyaring, seolah-olah sedang berbisik.
Karena penasaran, Elara menekan tombol kecil di samping arloji itu. _Klik_.
Seketika, dunia mendadak bisu. Burung yang tadinya terbang di atas lapangan membeku di udara. Pak Satpam yang sedang meniup peluit terdiam seperti patung. Elara melongo, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia merasa baru saja menemukan harta karun yang membuatnya menjadi raja atas waktu. Ia bebas melakukan apa saja tanpa ada yang bisa melihatnya.
Namun, kegembiraan itu berubah menjadi horor saat Elara pulang ke rumah. Ia mendapati ibunya yang tadi pagi masih segar, kini duduk di kursi dengan rambut memutih dan wajah yang sangat keriput. Elara gemetar dan menyadari satu hal, arloji itu tidak menghentikan waktu secara gratis. Setiap satu menit yang ia curi dari dunia, arloji itu menghisap satu tahun umur orang yang paling ia sayangi sebagai bayarannya.
Panik dan penuh penyesalan, Elara berlari kembali ke sekolah. Ia bermaksud menghancurkan benda terkutuk itu. Ia menekan tombol arloji untuk terakhir kalinya, berniat menghentikan waktu agar ia bisa membuang benda itu ke tempat yang tak terjangkau siapa pun.
_Klik_. Dunia kembali membeku. Abu-abu dan sunyi.
Tiba-tiba, arloji di tangannya retak dan hancur berkeping-keping. Elara mencoba menekan tombolnya berkali-kali, tapi dunia tetap diam. Ia mencoba berteriak, namun suaranya lenyap. Saat ia melewati cermin besar di koridor, langkahnya terhenti. Bayangannya di dalam cermin justru bergerak bebas. Bayangan itu tersenyum sinis, lalu melangkah keluar dari permukaan kaca menuju koridor sekolah yang perlahan kembali berwarna. Elara yang asli hanya bisa terpaku di balik kaca, melihat “dirinya” yang lain hidup di dunia nyata, sementara ia sendiri tertinggal selamanya dalam satu detik yang tak pernah berakhir.
- Pesan Moral:”Cerita ini mengingatkan kita bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dimainkan. Segala sesuatu yang instan atau tampak sebagai “jalan pintas” seringkali memiliki harga mahal yang harus dibayar. Hargailah setiap detik yang kita miliki bersama orang-orang tersayang, karena waktu yang sudah berlalu atau yang kita sia-siakan tidak akan pernah bisa kembali lagi.”