u4-1000233951
Warna

Warna

Karya: Cheril Vidia Nur Fitri

“Aku benci tubuh ini! Aku benci kehidupan ini! Tolong ubah aku jadi gadis di anime harem di kehidupan selanjutnya!”

“Berisik Cynthia! Kamu membuatku bangun dari tidurku!” lagi-lagi makhluk itu mengagetkanku dengan teriakannya dari dalam cermin.

“Ehh? Kedengeran sampai situ ya?”

“Ya iyalah Cynthia, gimana ga kedengaran orang kamu teriaknya pas di depan cermin, ya kedengaran dong cantik” membuatnya kesal adalah rutinitasku setiap hari. Aku melakukannya bukan karena iseng tapi aku sangat suka reaksinya.

“Yaudah maaf yaa…”

“Iya iya,” namanya Crystian, dia adalah hantu yang terperangkap di cermin karena di masa hidupnya dia selalu benci jika ada orang yang lebih baik secara penampilan dari dirinya. Semenjak aku tahu kalau di cerminku ada Crystian aku tidak kesepian lagi, dan ku rasa aku mencintainya. Meskipun, aku tidak pernah tahu, seperti apa warna matanya, seperti apa warna rambutnya, seperti apa warna pakaiannya. Karena di dunia ini, warna adalah hal istimewa yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah mempunyai pasangan. Tapi, tidak sembarang pasangan. Pasangan yang dimiliki haruslah seseorang yang namanya telah ditulis di kulit pohon jodoh milik dewa warna.

Aku benci rutinitas ini. Bangun, bercermin, menggoda Crystian, lalu pergi ke sekolah tanpa bisa melihat warna apa pun selain abu-abu. Abu-abu di langit, abu-abu di dedaunan, abu-abu di seragam teman-teman. Kadang aku iri melihat mereka yang sudah berpasangan—baju mereka tiba-tiba berubah warna cerah, rambut mereka berkilau, dunia mereka seperti lukisan yang baru saja disiram cat air. Tapi iriku tidak pernah seburuk rasa penasaranku pada Crystian.

“Crystian,” ucapku suatu pagi sambil duduk di depan cermin riasku yang agak usang. “Apa kamu tahu warna matamu?”

Dia terdiam sejenak. Dari pantulan kaca, aku hanya bisa melihat samar bentuk tubuhnya—seperti bayangan kabur yang menolak menjadi nyata. “Dulu katanya cokelat,” jawabnya pelan. “Tapi aku lupa. Sudah terlalu lama di sini.”

“Cokelat…” Aku mengulanginya, mencoba membayangkan. “Gimana sih rasanya liat warna?”

“Kamu nggak usah khawatir,” ujarnya cepat. “Suatu hari kamu pasti ketemu jodohmu. Nanti kamu juga bisa lihat warna.”

“Tapi… gimana kalau jodohku ternyata kamu?”

Keheningan yang canggung menyelimuti kamar. Aku bisa merasakan dia menatapku dari balik kaca, meskipun aku tak bisa melihat seperti apa fitur wajahnya.

“Cynthia, aku ini hantu,” katanya akhirnya. “Dan aku terperangkap di cermin karena dosaku sendiri. Aku nggak pantas buat—”

“Tapi namaku nggak ada di kulit pohon jodoh siapa pun,” potongku. “Aku sudah cek ke kuil. Namaku nggak tercatat di mana pun. Berarti sampai kapan pun aku nggak akan bisa melihat warna, dan selama-lamanya aku akan hidup di dunia abu-abu.” Aku tidak bermaksud membuatnya kasihan. Aku hanya lelah. Lelah menjadi satu-satunya gadis di sekolah yang seragamnya tetap abu-abu, sementara teman-teman satu per satu berganti warna. Crystian tidak menjawab. Aku melihat bayangannya mundur perlahan, menjauh dari cermin, seperti biasa kalau ia sedang berpikir keras.

Malam harinya, aku terbangun karena suara gemerisik aneh. Dari tempat tidur, aku melihat cermin di meja riasku bercahaya redup. Samar-samar, kulihat Crystian berdiri di sana—lebih jelas dari biasanya. Seolah-olah ia berusaha keluar.

“Crystian?” Aku berbisik, turun dari tempat tidur.

“Cynthia,” suaranya berbeda. Ada getar yang tak biasa. “Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Selama ini aku pikir aku di sini karena aku benci orang yang lebih baik penampilannya dari aku. Tapi… tapi sebenarnya bukan itu.”

Aku mendekat, duduk di depan cermin seperti biasa. “Lalu kenapa?”

“Aku di sini karena aku iri. Iri pada orang yang bisa mencintai dan dicintai. Sepanjang hidupku, aku nggak pernah punya keberanian untuk mencintai siapa pun. Dan ketika aku mati, aku malah terperangkap di tempat di mana aku hanya bisa melihat cinta dari luar. Tapi kamu…” Ia berhenti.

“Aku kenapa?”

“Kamu satu-satunya yang duduk di sini setiap hari, bukan karena ingin dilihat, tapi karena ingin melihatku. Kamu nggak pernah tahu seperti apa rupaku, tapi kamu tetap… kamu tetap memberikanku ruang untuk tenang. Meskipun, aku… aku cuma jiwa berdosa yang terperangkap di cermin.”

Detak jantungku berpacu. “Itu karena aku memang mencintaimu.”

“Tapi itu mustahil, Cynthia. Aku bahkan nggak punya nama di kulit pohon jodoh. Aku sudah mati.”

“Aku juga nggak punya nama di kulit pohon mana pun!” Aku hampir berteriak. “Jadi kalau kita berdua nggak punya nama di sana, kenapa kita nggak bisa bersama?”

Crystian terdiam lama.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang aneh. Dari cermin itu, perlahan-lahan, ujung jari tangan menjulur keluar. Bukan jari kabur seperti biasanya—tapi jari yang nyata, dengan kulit pucat dan kuku yang rapi.

“Cynthia,” katanya lirih. “Aku nggak tahu ini bakal berhasil atau nggak. Tapi… pegang tanganku.”

Tanpa berpikir dua kali, aku meraihnya. Seketika, dunia berputar.

Rasanya seperti tenggelam ke dalam pusaran air yang dingin dan panas sekaligus. Aku menjerit, tapi suaraku tenggelam. Yang kutahu, aku memegang erat tangan itu—tangan yang terasa semakin nyata, semakin hangat.

Lalu semuanya berhenti.

Aku jatuh terduduk di lantai. Kamarku sama seperti sebelumnya. Tapi… ada yang berbeda. Cermin di hadapanku kini retak memanjang. Dan di dalamnya, tidak ada bayangan siapa pun.

“Crystian?” Aku berbisik, panik.

“Aku disini.”

Aku menoleh ke samping. Di sebelahku, seorang laki-laki dengan rambut hitam sebahu dan mata cokelat kemerahan duduk bersandar ke tempat tidur. Ia memakai kemeja putih lusuh dan tampak kelelahan, tapi ia tersenyum—senyum yang sama persis dengan senyum yang biasa kulihat dari balik cermin.

“Kamu…” Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

“Apa aku sesuai ekspektasimu?” candanya, tapi suaranya gemetar.

“Crystian!” Aku melompat memeluknya tanpa berpikir. Ia kaku sesaat, lalu membalas pelukanku dengan hati-hati, seolah aku terbuat dari kaca. Setelah beberapa lama, ia berkata pelan, “Cynthia, lihat ke sekeliling.”

Aku melepaskan pelukan dan menatap kamarku.

Dinding kamarku yang tadinya abu-abu… sekarang berwarna krem lembut. Bukuku yang berserakan di meja memiliki sampul biru dan merah. Tanaman di jendela ternyata berwarna hijau—hijau yang segar, yang belum pernah kulihat seumur hidupku. Aku melihat tanganku sendiri. Kulitku yang dulu hanya kukenal dalam skala abu-abu kini tampak hangat dengan semburat kekuningan.

“Ini warna…” Aku hampir tidak percaya.

“Kita berdua nggak punya nama di kulit pohon jodoh,” kata Crystian sambil tersenyum. “Mungkin karena nama kita memang tidak pernah ditulis di sana. Mungkin karena jodoh kita bukan ditentukan oleh dewa warna.”

“Lalu oleh siapa?”

“Oleh kita sendiri.”

Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa melihat dengan jelas—warna rambutnya yang hitam pekat, warna matanya yang seperti madu, warna bibirnya yang pucat tapi tersenyum untukku. Dunia yang tadinya abu-abu kini meledak dalam jutaan warna, dan semuanya terasa begitu baru.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait

    Prestasi Literasi

    a. Juara  2 GLS Kabupaten Lumajangb. Juara 1 KIR Dinas Pertanian Kabupaten Lumajangc. Juara 1 KIR MGMP IPA Kabupaten Lumajang

    Baca selengkapnya...

    Program Literasi

    1. Program Literasi Inti: Jurnal Baca 15 Menit (Tahap Pembiasaan) Aspek Deskripsi Implementasi Waktu Pelaksanaan 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai setiap hari. Bahan Bacaan Buku non-pelajaran (fiksi, non-fiksi, motivasi, sejarah, dll.) yang dibawa siswa dari rumah atau dipinjam dari perpustakaan/pojok baca kelas. Kegiatan Inti Membaca dalam hati (membaca mandiri) atau sesekali Membacakan Nyaring

    Baca selengkapnya...